Rabu, 26 Juni 2013

Sinopsis I HEAR YOUR VOICE Episode 3 - 1




Kwan-woo mengingat kata-kata ledekan Hye-sung tadi, “Saya menikmati sidang percobaan tadi, Pengacara Cha. Terima kasih banyak, saya banyak belajar. Saya mempelajari betapa berbahayanya terlalu mempercayai terdakwa. Saya juga melihat bagaimana tidak efektifnya seorang pengacara tanpa strategi, yang percaya pada kemanusiaan. Terima kasih.”
Kwan-woo merasa marah, dia berbicara sendiri seolah-olah Hye-sung berada di depannya, “Jika kamu tidak percaya pada terdakwamu. Lalu apa yang akan kamu lakukan? Jika terdakwamu tidak berarti apa-apa untukmu, kamu tidak usah jadi pengacara, mengapa kamu memasang badge pengacara?”
“Apa aku salah, nona? Apa aku salah?” tanyanya sambil berteriak pada dua wanita yang sedang duduk disana.
“Aku akan melihatmu. Jika dia tidak menangani kasus ini dengan serius, aku akan melaporkan ke Kantor Administraso! Tunggu saja dan lihat.” Katanya lagi.
Kwan-woo masuk ke ruang sidang.
Adegan kembali ke akhir episode 2, saat hakim menegur Hye-sung yang tidak juga memberikan pembelaan.
Hye-sung menatap Soo-ha. Kwan-woo menirukan gaya Hye-sung yang pasti akan menerima tuntutan.
Hye-sung berdiri, “Saya menolak semua tuntutan. Klien saya menyatakan tidak bersalah.”
Hye-sung menatap Soo-ha lagi. Kwan-woo sepertinya terkejut.
Episode 3
I’ll be there
Jaksa Do-yeon: “Terdakwa mengatakan dia tidak menindas korban, tetapi dia mengatakan itu hanya candaan. Apakah itu benar candaan?” (Seong-bin gelisah)
“Mari kita lihat pada sms yang dikirimkan terdakwa pada korban. ‘Hey kamu xxxx. Mengapa kamu tetap xxxxx ku? Katakana xxxx sekali lagi dan aku akan merobek kelopak mata ganda kamu dan memberikannya pada anjing. Hidup dengan menghirup udara dari hidung silikonmu. xxxxxx
Semua orang di persidangan tampak tercengang dengan is isms yang sangat kasar itu. seong-bin menundukkan kepalanya.
Sekarang giliran Hye-sung membacakan pembelaannya.
Hye-sung: “Hanya karena kata-kata kasar terdakwa, itu tidak dapat diasumsikan bahwa terdakwa bersalah. Kata-kata tidak senonoh bukan berarti demikian dikalangan anak-anak, misalnya xxxxx berarti teman dekat.”
Hakim, melihat Hye-sung: “Apakah pengacara ini benar-benar bodoh? Apakah dia percaya itu bisa dikatakan sebuah penyangkalan?” pikiran hakim ini terdengar oleh Soo-ha.
Hye-sung mentap Soo-ha, dan So-ha menyilangkan tangannya dan menggelengkan kepala, tanda big NO. Hye-sung garuk kepala.

Do-yeon menghadirkan saksi, “Saksi, kamu melihat terdakwa mendorong korban keluar dari jendela? Benarkah?”
Saksi: “Ya.” (Soeng-bin terlihat tidak terima), “Saya menghampiri tempat kejadian karena saya mendengar Dong-hee dan Seong-bin bertengkar. Lalu saya mendengar suara. Saat saya melihatnya, Dong-hee terjatuh dirumput.
Hye-sung: “Kamu bilang bahwa kamu melihatnya setelah mendengar suara, benar? Jadi, kamu tidak melihat terdakwa mendorong korban, Dong-hee. Benar?”
Saksi: “Apa? Tidak…itu….” saksi terlihat bingung,
Hye-sung: “Kamu mengatakan kamu melihat korban setelah suara terjatuh. Saya akan bertanya lagi. Apakah kamu melihat sendiri saat Go Seong-bin mendorong Moon Dong-hee keluar jendela?”
Saksi: “Tidak, itu hal yang sama! Bukankan hal yang sama melihat kejahatan secara langsung dan tidak langsung?”
Kwan-woo komen, :Wow.. dia benar-benar menunjukkan kliennya tidak bersalah.”
Hye-sung menatap Soo-ha, Soo-ha menatap Hakim: “logika terdakwa tampaknya bisa diterima.” Soo-ha member tanda OKE. Hye-sung pun tersenyum. Eh, Kwan-woo ikutan senyum…
Do-yeon: “Dalam percobaan pembunuhan, hal yang paling penting adalah apakah dia memiliki kemampuan untuk membunuh. Terdakwa seringkali berkata bahwa dia ingin membunuh Moon Dong-hee.”
Hye-sung: “Jika pernyataan bahwa Go Seong-bin ingin membunuh Moon Dong-hee bisa dianggap sebagai bukti, semua siswa sekolah bertanggung jawab atas pembunuhan ini. Guru berkata ‘aku akan membunuhmu jika peringkatmu turun” itu juga ancaman pembunuhan, berdasarkan logika anda.”
Hye-sung ke Soo-ha. Soo-ha, OKE. Hye-sung angguk-anguk.

Do-yeon: “Terdakwa yang melihat Moon Dong-hee didekat jendela, mendorongnya.”
Hye-sung: “JIka dia jatuh karena seseorang mendorongnya, seharusnya luka yang paling parah ada di kepalanya. Akan tetapi, luka Moon Dong-hee semuanya di kaki.”
Hye-sung senyum ke Soo-ha. Soo-ha tersenyum, dia mengenang kesaksian Hye-sung remaja di persidangan waktu itu. (Ih,,Soo-haaaaaaaa senyumnya bikin saya ikutan senyumm… ^^)
Do-yeon: “Di ruang musik, tidak orang lain selain terdakwa. Dan berdasarkan keterangan saksi, yang melihat korban dan terdakwa bertengkar…”
(Duh, panjang banget tik tok pembelaannya, dipotong aja ya.. hehe.. intinya sih jaksa dan pengacara tetap pada pendirian masing-masing.)
Do-yeon mengajukan korban untuk menjadi saksi. Moon Dong-hee sudah sadar hari ini. Hakim mengijinkan dan menunda sidang sambil menunggu kedatangan Dong-hee.
Hye-sung dan Seong-bin merasa gembira karena Dong-hee masih hidup. Seong-bin merasa masih ada harapan untuknya.

Hye-sung keluar ruangan sidang dengan gembira, bahkan dia berjalan sambil melompat-lompat seperti anak kecil. Ada kaca dilorong, dia pun ngaca dengan gaya centilnya, hehe.. lalu ada sms masuk, dari nomor tidak dikenal, bunyinya “I’ll be there”. Hye-sung mengira itu spam. Dia kemudian melihat Soo-ha.
“Hey Gum!” Hye-sung berlari mengahmpirinya.
Hye-sung menirukan tanda OKE Soo-ha, yang seperti huruf C, “Itu sangat bagus. Kamu terlihat seperti monster, tapi kamu sangat membantu.”
Soo-ha: “Haruskah kamu bilang ‘terima kasih’ dengan cara seperti itu?”
Hye-sung: “Nanti selama persidangan, lakukan ini untukku lagi, ok?” Hye-sung menunjukkan tanda OKE gayanya yang menyerupai huruf O.
Soo-ha: “Gratis? Disini.” Soo-ha menunjuk pipinya, sebagai tanda ngasih tahu Hye-sung pipinya ada coretan bekas spidol.

Hye-sung 2x bilang “apa”, dan Soo-ha 2x bilang “disini”, sampai akhirnya Hye-sung bilang “Baiklah…baiklah…”, lalu diam cium tangannya sendiri dan menempelkannya ke pipi Soo-ha. (Hhahahahaha, aku beneran ngakak liat adegan ini, Hye-sung pikir Soo-ha minta diciuummm…)
“Terima kasih. Oke.” Kata Hye-sung.
Soo-ha kaget campur bingung, “apa yang kamu lakukan?”
Hye-sung: “Aku tidak bisa memberikanmu ciuman, jadi diganti itu saja.”
Soo-ha: “Ish, apa maksudmu ciuman? Itu ada bekas spidol disini, bekas spidol….” Soo-ha nunjuk pipi.
“Oh..itukah..” kata Hye-sung lalu membersikannya dengan ludah.
Soo-ha; “Jeezzz…” dan berlalu sambil memegang pipinya.
Hye-sung: “Hey, kau mau kemana?”
Soo-ha teriak, “Cuci muka!” hahahahaaaa, padahal mah Soo-ha turun tangga sambil ngomong sendiri, “Apa-apan itu, melakukannya tiba-tiba, aku kan kaget…” sambil megang pipinya dan senyum sendiri. (aww,,senangnya…)

Senyumnya kemudian menghilang, dan diapun menurunkan tangannya, dia mendengar suara yang sangat dikenalnya diantara suara-suara lainnya, suara si pembunuh, Min Joon-guk, “Jang Hye-sung. Anak itu menjadi Pembela Umum di tempat ini.”
Soo-ha mencari-cari sumber suara. Kemudian melihat seseorang yang memakai jas dari belakang yang nampak seperti pembunuh itu. Tapi ternyata bukan, Soo-ha salah mengenali orang. Tapi, Joon-guk memang ada disana.
Soo-ha tampak cemas, “Tidak mungkin…….”

Kwan-woo menceritakan pada Pengacara Shin dan Yoo-chang bagaimana hebatnya Hye-sung menghadapi Jaksa di persidangan, menurutnya. Pengacara Shin dan Yoo-chang tidak berminat mendengar cerita Kwan-woo, mereka kembali ke meja nya masing-masing. Kwan-woo bertanya, apakah mereka tidak terkesan. Pengacara Shin bilang Hye-sung seperti ayam (bertarung dengan keras). Kwan-woo tidak setuju, dia menyebut Hye-sung sebagai prajurit wanita, Jeanne d’Arc!
Kemudian ibunya Hye-sung datang ke kantor mereka, yang awalnya dikirain terdakwa…
Persidangan.
Hakim Kim memulai kembali persidangan. Moon Dong-hee membaca sumpah.
Hye-sung dan Do-yeon saling menatap. Soo-ha terlihat masih cemas, dia nengok-nengok ke belakang mulu.
Hakim Kim ke Dong-hee: “Jika anda merasa tidak enak, silahkan cepat memberitahu kami. Kita mulai dari Jaksa.”
Dong-hee melihat ke arah Seong-bin, Seong-bin dadah dadah, tapi Dong-hee memalingkan wajahnya. Haduh, apakah pertanda buruk?
Do-yeon: “Pada 24 Mei, anda, saksi, jatuh dari kelas musik di lantai 4 Yeonjo High School dan tidak sadar sampai hari ini. Benar?”
Dong-hee: “Ya..”
Do-yeon: “Apakah ada seseorang pada saat itu yang mendorongmu?” (deg-degan)
Dong-hee agak ragu menjawab, “Ya.”
Semua terkejut.
Do-yeon: “Orang itu sekarang berada bersama kita, benar?” (deg-deg)
Dong-hee menatap Do-yeon, “Ya.”

Hye-sung mengatakan keberatannya, tapi Do-yeon terus melanjutkan.
“Dapatkah kamu mengatakan pada kamu siapa dia?” (deg-deg)
Doong-hee perlahan-lahan menunjuk Seong-bin. (duh, kenapa gak ada suara yang didengar Soo-ha sih…)

Seong-bin tidak terima, dia berdiri sambil melepaskan wignya, berteriak marah, “Hey Moon Dong-hee! Kamu tidak seharusnya melakukan ini terhadapku!...xxx..”
Hye-sung berusaha menenangkan Seong-bin, Soo-ha malah garuk-garuk kepala. Dong-hee juga agak takut-takut gitu wajahnya.
Seong-bin tidak terima, karena Dong-hee dia akan masuk penjara. Seong-bin terus histeris, bahkan dia akan menghampiri Dong-hee tapi ditahan oleh Hye-sung dan petugas. Dia terus mengatakan bahwa yang dikatakan Dong-hee adalah kebohongan.

Dong-hee akan dibawa pergi oleh suster, ditahan oleh Soo-ha. Soo-ha menatap mata Dong-hee, dan terdengarlah… ”Aku tidak akan pernah mengatakannya. Jika aku mengatakan yang sebenarnya mengapa aku jatuh, semuanya akan berakhir untukku.”

Ruang sidang sudah sepi. Tinggal Hye-sung yang menunduk dan Do-yeon yang membereskan berkas-berkasnya. Do-yeon menghampiri Hye-sung dan mengatakan bahwa persidangan tadi sangat berkesan. “Jadi, jangan menyalahkan dirimu sendiri. Kamu melakukannya dengan baik. Mempertimbangkan bahwa kamu adalah seorang pembela umum.

Soo-ha diluar tampak bingung, akhirnya orang yang dicarinya keluar. Hye-sung berjalan dengan gontai. Soo-ha menghampirinya dan mengatakan bahwa dia melihat mata Dong-he. Dan saat itu juga dia melihat mata Hye-sung.
Hye-sung: “Kalah. Jangan pernah muncul dihadapanku lagi.” Hye-sung pun pergi meninggakan Soo-ha. Soo-ha nampak terkejut, dan bergegas mengejarnya.

Di kantor. Pengacara Shin, Kwan-woo dan Yoo-chang memakan ayam goreng yang dibawa ibu. Ibu menanyakan perihal Hye-sung dan meminta maaf jika dia berbuat kesalaha. Yoon-chang akan mengatakan sesuatu tentang Hye-sung tapi dipotong oleh Kwan-woo yang membela Hye-sung. Ibu kemudian memegang tangan Kwan-woo: “Putriku melompati masa SMA nya, jadi kurang kemampuan sosialnya. Dari luar mungkin dia terlihat galak, tapi di dalam dia sebenarnya sangat baik.”
Lalu terdengar teriakan Hye-sung, “Tutup mulutmu. Aku sudah menyuruhmu untuk pergi.” Semunnya kaget menoleh ke sumber suara.
Ternyata di luar Hye-sung sedang berbicara dengan Soo-ha.
‘Ini semua salahmu. Jika aku mengatakan dia menerima dan dia menyesali kesalahannya, aku tidak akan melangkah sejauh ini.”
Soo-ha: “Mengapa dia harus menerima sesuatu yang tidak pernah dia lakukan?”
Hye-sung: “Lihatlah situasi ini. Seong-bin akan masuk penjara karena ini. Dan aku merasa tidak nyaman di depan jaksa. Kamu tahu?”
Soo-ha: “Dong-hee tidak didorong oleh Seon-bin tapi dia terjatuh sendiri. Dong-hee sedang berbohong sekarang.
Hye-sung: “Sudah cukup. Hentikan. Aku tidak butuh semua itu.”
Soo-ha: “Kenapa tidak butuh? Mengapa kamu menyerah tanpa berusaha?”
Hye-sung: “Hey, apa kamu pikir kamu harus pergi ke Himalaya untuk merasakan dingin? Apakah kamu harus lompat ke dalam api untuk merasakan panas? Tidak ada lagi yang bisa dilakukan. Its game over!” teriak Hye-sung.
Ibu yang daritadi melihat mereka bersama trio pria meneriaki Hye-sung, “Apakah kamu ingin digigit sampai mati?”   (Pengacara Shin langsung cegukan denger ibu teriak, trus ditahan oleh 2 anggota trio pria itu, takut ganggu mungkin, kasian Pengacara Shin, hahaha..)
Hye-sung menoleh kaget, “Mengapa ibu ada disini?”
Ibu menghampiri Hye-sung, “Mulutmu sedang xxxxc sekarang. Menempatkan hidup seseorang seperti permainan bukanlah sesuatu yang dilakukan oleh seorang pengacara!”
Hye-sung, “Ibu bahkan tidak tahu apapun! Apakah ibu tahu siapa yang membuatku tidak nyaman?”
Ibu: “Mengapa aku harus tahu.”
Hye-sung: “Itu adalah Do-yeon. Seo Do-yeon.”
Ibu: “Lalu kenapa?”
Hye-sung: “ ibu tidak ingat? Seo Do-yeon yang membuat ibu dan aku dilempar ke jalanan.”
Ibu: “Lalu apa?”
Hye-sung: “Aku dihina di depan gadis yang baru aku temui lagi setelah 10 tahun. Putrimu, Hye-sung!”  Hye-sung teriak sama ibunya.
Ibu: “Kamu yang menghinaku sekarang! Aku telah mengatakan pada semua tetangga bahwa putriku sekarang telah menjadi naga (orang hebat), tapi aku rasa itu tidak benar. Putriku hanya menjadi seekor cacing, benar kan?”
Hye-sung menahan tangis. Disaat dia kecewa dengan dirinya sendiri, kemudian dihantam dengan perkataan ibu yang tidak sepenuhnya salah. Moga aja Hye-sung berubah setelah ini.

Semua terdiam. Kemudian ibu pergi, Kwan-woo yang duluan sadar dan menahan ibu. Ibu tidak boleh pergi seperti ini. Ibu bilang ada urusan lain.
Ibu berkata lagi pada Hye-sung bahwa dia harusnya mencopot semua brosur dan spanduk, dan juga harusnya berhenti bekerja. “Aku tidak bisa berjalan di sekeliling tetangga bahkan untuk satu detik, karena aku tidak nyaman. Aigo…pengacara macam aoa kau inni?!” Ibu kayaknya kecewa berat sama Hye-sung.
Hye-sung masih diam saja. Soo-ha melirik-lirik pada Hye-sung.
Trus Soo-ha melirik ibu, dibalas ibu dengan teriakan, “Apa kamu liat-liat?!”
(kasian, tapi ketawa Soo-ha dikatain gitu sama ibu.. hehe)

Di ruang jenguk penjara. Pengacara Shin menjenguk seseorang, sepertinya napi yang satu sel dengan Joo-guk.
Pengacara Shin cerita-cerita sama napi itu sambil mainan apa tau, nyoret-nyoret nama comedian gitu di kotak-kotakin. Pengacara Shin cerita tentang Hye-sung yang amarahnya bukan candaan, sama seperti ibunya. Napi tanya apakah HYe-sung minta maap pada ibunya. Pengacara Shin bilang tidak, mungkin selama 1 bulan dia tidak akan bicara. Napi tanya lagi berapa usia nya Hye-sung. Mungkin sekitar 27 atau 28 tahun, kata Pengacara Shin. Si napi terdiam.
Pengc. Shin: “Kenapa? Apakah kamu memikirkan putrimu?”
Napi (belum tau namanya): “Ga-yeon ku pasti usia sekitar segitu juga sekarang.”
Pengc. Shin: “Oh iya, aku juga mengira begitu.”
Pengc. Shin mengajak napi melanjutkan permainannya.
Napi: “Ngomong-ngomong, apakah ada pria bernama Min Joog-guk datang ke kantor?”
Pengc. Shin: “Tidak ada yang datang. Kenapa? Siapa dia?”
Napi: “Seseorang yang baru saja keluar dari penjara. Dia sepertinya mengenal pengacara baru di kantormu. Dia bilang dia harus membayar pinjaman….” Bicaranya tidak selesai karena permainan itu.

Hye-sung berjalan sendirin, sepertinya pulang membeli sesuatu. Dia memikirkan kata-kata Seong-bin saat histeris di persidangan, kata-kata ibunya, dan kata-kata Do-yeon usai persidangan.
Tiba-tiba dia dikejutkan oleh anak-anak SMA yang mengambil bola. Mereka marah pada Hye-sung. Karena Hye-sung menendang bolanya ke jalan waktu itu, bolanya jadi rusak (Adegan di episode 1 saat Soo-ha menceritakan tentang cinta pertamanya pada Seong-bin, tidak aku tulis waktu itu, aku pikir gak aka nada lanjutannya, hehe…mian..). “Apa ahjumma mengingatnya?”
Hye-sung memainkan bola matanya dan bilang tidak ingat, lalu berjalan pergi dengan perasaan was-was takut di apa-apain. Ternyata merek mengikuti Hye-sung, tahu kalau Hye-sung berbohong. Hye-sung jalan semakin cepat. Hye-sung lari, mereka mengejar. Terlihat sosok Soo-ha tampak belakang.
Hye-sung lari ke bawah, jalan buntu. Hye-sung mengancam mereka akan dituntut dengan hukuman yang tidak ringan karena menyerang wanita di malam hari. Tapi mereka tidak terlihat takut, malah mengejek. Lalu ada yang datang, Soo-ha! (yeeyyy..)
Hye-sung: “Hey Gum! Lapor polisi atau palin tidak bawa seseorang kemari.”
“Berjanji padaku, maka aku akan membereskan mereka untukmu.” Kata Soo-ha santai sambil duduk.
Anak-anak SMA itu pada melongo ngeliatin.
Hye-sung tanya janji apa? Soo-ha bilang janji bahwa dia tidak akan menyerang terhadap Seong-bin.
Hye-sung marah, mengapa Soo-ha membawa-bawa masalah itu disini. Soo-ha beranjak dari duduknya. Hye-sung dengan cepat berkata, “Aku tidak akan menyerah. Sama sekali.” Soo-ha masih cuek. Hye-sung menambahkan, “Dari awal aku tidak pernah menyerah.”
Anak-anak SMA itu pada menghela nafas bingung, “apa yang mereka katakana…?”
“Ahjumma…lihat kesini, apakah kamu benar-benar tidak mengerti suasana saat ini? Kamu lagi ngomong sama aku!”

Soo-ha menyuruh mereka menghadapinya, yang satu bersiap mau berkelahi, yang satu bilang kalo itu Park Soo-ha yang waktu itu mukul Joon-gi, “Ingatlah, Kim Joo-gi si-tak-terkalahkan.”
Soo-ha siap-siap meregangkan otot, sampe bunyi “kretek kretek” gitu…
Si yang satu tadi siap-siap ciut nyalinya, “benarkah?” dijawab benar sama si satu lagi, dia melihatnya sendiri.
Soo-ha siap menghampiri mereka. “Tunggu, tetap berdiri disana sebentar. Aku ingin berbicara denganmu sekarang. Tapi, aigoo, udah malem banget nih. Kita mau belajar buat ujian sekarang. Jadi, kita ngomongnya nanti aja ya, oke?” mereka beranjak pergi.
Soo-ha menghadangnya, “Bagaimana ini? Aku mau ngomongnya sekarang..”
Si satu, “Gue juga, tapi waktunya gak pas nih.. kita harus ketempat les sekarang..”
Soo-ha: “Hmmm…” dan mempersilahkan mereka lewat ke kolong kakinya. HA!
Hye-sung mah melongo aja daritadi..dia terheran-heran, “Cuma gitu aja?”
Soo-ha: “Karena ku sudah menyelesaikan masalah tadi, jangan lupa sama janjimu. Kamu harus bertanggung jawab untuk Seong-bin sampai akhir.” (kayak nasehatin anak kecil,hehe..)
Soo-ha mengantar Hye-sung pulang, sambil ngobrol..
Hye-sung: “Jadi, Dong-hee terjatuh setelah bergantung pada pinggiran jendela?”
Soo-ha: “Hmm..”
Hye-sung: “Kenapa dia bergantung disana? Gak ada orang lain di ruang musik itu kan?”
Soo-ha: “Aku tidak tahu. Aku ingin mencari tahu lebih banyak, tapi tak ada waktu.”
Hye-sung berpikir sambil gigit jari, “Dia bergantung disana sebelum jatuh..? bagaimana aku membuktikannya? Menghadirkan Dong-hee kembali ke persidangan? Tidak, jika dia berbohong lagi, itu akan menjadi masalah baru. Aku harus mencari bukti, bukti…”
Soo-ha: “Aku pikir kamu benar-benar menyerah terhadap Seong-bin.”
Hye-sung: “Diam.. kamu bukan alasanku tidak menyerah, jadi jangan GR…”
Sampai ke depan rumah Hye-sung.
“Masuklah..” kata Soo-ha. Mereka berbalik ke arah masing-masing, lalu Hye-sung berbalik memanggil Soo-ha kembali.
“Hey Gum! Well, walaupun kamu tidak menolongku sebelumnya, tapi apapunlah, terima kasih.” Lalu masuk.. (Hye-sung kayaknya tipe orang yang susah minta maap..)

Hye-sung akan masuk ke rumahnya, dia teringat sesuatu, “Btw, bagaimana si Gum itu tahu alamat rumahku?” lalu ada sms masuk lagi yang isinya “I’ll be there.” Hye-sung mengira itu Soo-ha.

---------bersambung ke bagian 3 - 2------------------

Tidak ada komentar:

Posting Komentar