Kamis, 27 Juni 2013

SINOPSIS i hear your voice Episode 6 part 1

Soo-ha: “Bagaimana jika kau yang salah dan dia benar?”
Hye-sung berhenti berjalan, senyumnya menghilang, “Apa yang kau katakan?”
Soo-ha: “Kau salah dan dia benar.”
Hye-sung: “Apa?”  dia terkejut.
***


Mobil tahanan memasuki terowongan. Kita melihat dua bersaudara Jeong saling melempar senyuman.
***



Hye-sung masih belum mencerna perkataan Soo-ha, “Apa maksudmu? Aku salah dan Do-yeon benar?”
Mereka masih di tengah jalan, dan lampu merah untuk pejalan kaki menyala. Mobil-mobil kembali melaju.
Soo-ha: “Si kembar merencanakan perampokan dan membunuh seseorang. Mereka berdua adalah pembunuh.”
Hye-sung linglung, tampak syok, hampir saja dia terjatuh dan tertabrak mobi. Untung Soo-ha dengan cepat memeganginya.
Hye-sung: “Mereka berdua pembunuh? Kau sedang berbohong padaku, kan?” Hye-sung mencengkram dasi baju Soo-ha. “Katakan kau berbohong!”
Soo-ha diam saja.





Lampu pejalan kaku kembali hijau. Hye-sung bergegas menyebrang.
Soo-ha: “Kau tahu aku tidk berbohong. Si kembar merencanakan dan menusuk korban.”
Hye-sung: “Aku tidak mendengar mu!” Hye-sung menutup kupinngnya. “HEEEEHHHHHH!”
Soo-ha menarik paksa tangan Hye-sung, “Jaksa benar, dan kau salah.”
“Lalu apa yang harus ku lakukan? Hakim telah memutuskan salah satu dari mereka tidak bersalah. Haruskah aku pergi dan berkta, ‘Maafkan aku. Jaksa benar daan aku salah’?” Hye-sung berteriak lagi. “Tidak mau! Aku tidak bisa!”





Hye-sung berusaha melepaskan tangannya yang dipegang dengan erat oleh Soo-ha. Tapi Soo-ha tidak melepaskannya.
“Mungkin kau seharusnya berhenti menjadi pengacara.” Soo-ha bicara dengan sungguh-sungguh. “Sepuluh menit yang lalu, ku mengatakan…..
Flashback saat Hye-sung berbicara dengan Do-yeon.


Hye-sung: “Apakah kau tahu siapa yang akan pergi meninggalkan bidang ini? Pengacara yang selalu kalah dari kasusnya? Jaksa yang selalu salah membuat keputusan? Atau, Jaksa yang selalu menuntut orang yang salah?”
Do-yeon: “Diam!”
Hye-sung melanjutkan: “Bukan mereka. Orang sepertimu yang tidak mengakui bahkan disaat mereka tahu bahwa mereka salah, adalah masalah terbesar.”
Hye-sung membela diri, “Tapi itu…”
Soo-ha: “Apakah aku mengatakan hal yang salah?”



Hye-sung: “Orang ini benar-benar…aku berpikir dia adalah orang yang akan selalu menolongku, tapi…dia hanya seseorang yang menghalangi jalanku.”




Soo-ha reflek melepaskan pegangan tangannya begitu mendengar pikiran Hye-sung itu. Dia terlihat terluka.
Hye-sung bergegas masuk ke kantornya dengan marah.
***







Hye-sung berteriak marah-marah sendiri, membuat Yoo-chang penasaran, kenapa Hye-sung jadi seperti itu lagi.
Hye-sung melihat keluar lewat jendela. Dia melihat Soo-ha masih disana, duduk menunggunya di depan kantor. Hye-sung berteriak kesal, “Aaaahhhh!!”
Yoo-chang terperanjat kaget.





Hari berganti malam. Soo-ha masih duduk ditempatnya. Dia melihat bangunan di depannya kemudian berjalan menuju kebangunan itu yang tiba-tiba berubah bentuk..
Flashback..





Soo-ha memasuki halaman rumah seseorang bersama seorang Polisi. Polisi itu mengetuk pintu rumah, dan muncullah paman Soo-ha.
Paman terkejut Soo-ha kembali ke rumahnya. Tapi dia tetap member Soo-ha makan seperti anak-anaknya.





Dilihat dari kondisi rumahnya, Paman ternyata bukan orang yang berada, karena itulah dia berusaha membuang Soo-ha sebelumnya. Karena diapun pas-pasan hidupnya.
Selesai makan, Soo-ha mendengar pikiran pamannya, “Anak ini menempel seperti lintah.”
Soo-ha terdiam lalu melihat ikan di akuarium kecil, ada ikan yang terpisah sendiriian disana.




“Tanganku terluka.” Ujar Soo-ha tertunduk.
“Apa?” tanya paman.
“Aku bilang tanganku terluka. Ini sakit!” Ujar Soo-ha lagi sambil mengulurkan jarinya yang terluka dan menangis. Pasti hatinya lebih sakit sehingga dia menangis lagi.
Flasback end..




Episode 6
Abandoned Alone By The Hole World




Hye-sung menghampiri Soo-ha.
“Tarik kembali perkataanmu sebelumnya.”
Soo-ha diam menatap Hye-sung.
“Tarik kembali kata-kata bahwa aku sama dengan Do-yeon, gadis itu.” kata Hye-sung lagi.
Soo-ha: “Aku tidak mau.”
Hye-sung: “Mulai sekarang, aku akan melakukan apapun yang dapat aku gunakan untuk mencari kebenaran. Aku akan membuktikan bahwa mereka pergi sendirian, dalam pembunuhan itu. Apa kau mengerti apa yang kau bicarakan?”
Soo-ha: “Mungkin.”
Hye-sung kesal dan berteriak dan menjelaskan, “Aku mengakui kesehatanku, kau bodoh!”





Soo-ha tersenyum dam membuat Hye-sung makin kesal.
“Apa kau tertawa? Kau pikir ini lucu? Hey, ini tidak semudah yang kau kira. Fakta bahwa aku mengakui kesalahanku, terutama di hadapan musuhku Do-yeon, adalah hal yang tidak biasa dilakukan oleh orang pada umumnya. Tapi aku mengakuinya. Mengapa? Karena aku lebih baik daripada orang yang rata-rata. Jadi tarik kembali apa yang kau katakan sebelumnya.”
Soo-ha: “Kau tidak salah, hanya berbeda.”
Hye-sung: “Apa?”
Soo-ha: “ ‘Salah’ artinya ‘tidak benar’. ‘Berbeda’ artinya ‘tidak sama’. Dalam hal ini, kau seharusnya menggunakan ‘berbeda’ bukan ‘salah’.”



Hye-sung bengong.
Soo-ha: “Segitukah kosakatamu di tingkat itu?” (maksudnya masa udah jadi pengacara tapi tidak bisa membedakan arti kata.)
Hye-sung: “Hey, aku tidak sedang ingin bermain kata denganmu sekarang.”
Soo-ha: “Kau berbeda dengan jaksa itu. Sangat berbeda. Puas?”
Hye-sung: “Huh?” Hye-sung baru mikir. “Ya. Baiklah kalau begitu.”
Kemudian Hye-sung mengajak Soo-ha belanja. Walaupun awalnya Soo-ha protes kenapa dia harus ikut, akhhirnya ikut juga.





Hye-sung dan Soo-ha pengan troli belanja bersama, Soo-ha senyum-senyum aja. Mereka belanja. Saat Hye-sung memasukkan makanan instan, Soo-ha dengan cepat mengembalikannnya. Hye-sung pukul-pukul tangan Soo-ha. Lucu deh…




Saat Hye-sung mengeluh tentang banyaknya waktu yang akan dihabiskan jika memasak, bukan makanan instan, ternyata tidak Soo-ha disampingnya. Hye-sung menoleh ke belakang dan melihat Soo-ha sedang memandangi ikan di aquarium. Lalu Soo-ha menoleh dan tersenyum pada Hye-sung.
***


Rumah tahanan.
Hye-sung bertemu dengan Pil-seung. Pil-seung menanyakan apalagi yang harus mereka lakukan untuk mendukung pernyataan bahwa dia tidak bersalah. Pil-seung mengajukan untuk mendapatkan petisi dari temannya. Hye-sung tidak menjawab, dengan hati-hati dia balik bertanya pada Pil-seung.
Hye-sung: “Sebelum itu, apakah kau pernah berbohong padaku? Bahkan 1%?”
Pil-seung tersenyum dan berkata tidak pernah.




Hye-sung: “Karena 1% itu, 99% yang lain bisa menjadi kebohongan.”
Pil-seung masih dengan tampang tidak bersalahnya menjawab dia tahu itu, “Tapi, mengapa anda menanyakan itu?”
Hye-sung masih dengan hati-hati bertanya: “Aku bertanya untuk memastikan, apakah kau dan kakakmu merencanakan untuk membunuh Han Gi-soo?”
Pil-seung menggeleng, “Tidak, tentu saja tidak. Mengapa anda menanyakannya? Apakah kakakku mengatakan sesuatu?”
Hye-sung: “Jika kakakmu mengatakan sesuatu…..fakta bahwa kalian berdua merencanakannya mungkin akan tersebar, kan?”





Hye-sung menatap Pil-seung. Pil-seung terdiam lalu melihat ke pensil yang dipegang Hye-sung (aku gak ngerti maksudnya apa). Hye-sung mengeratkan pegangan tangannya pada pensil itu dan menoleh ke arah Pak Polisi penjaga di luar.
Raut muka Pil-seung berubah lebih serius, tidak polos lagi, “Ini bukan hanya tentang itu. Tapi, aku hanya bertanya apakah anda mendengar sesuatu.”
Pil-seung mendekatkan mencondongkan badannya ke depan dan berkata dalam bahasa informal, “Tapi ini rahasia. Sebagai pengacaraku, kau tidak bisa menceritakannya. Kode Etik Pengacara Nomor 23. ‘Seorang pengacara tidak akan mengatakan rahasia kliennya di persidangan dalam pernyataannya.’ Kau tahu kan?”
Hye-sung: “Apakah kau sedang mengancamku?”
Pil-seung tersenyum meremehkan, “Tidak. Hanya memberitahumu bahwa aku lebih pintar daripada yang kau pikirkan. Jadi kau bisa percaya dan hanya lakukan apa yang aku katakan. Seperti yang sudah kau lakukan sampai sekarang.”
Hye-sung diam, tapi terlihat tegang.
Pil-seung: “Apa yang aku katakan karena aku belajar sedikit tentang hukum. Itu bukan untuk mematuhi hukum. Aku hanya membuatnya berguna.”
(mian…mian banget, englishku terbatas, jadi terjemahannya agak kurang enak, atau mungkin salah.)
***




Hye-sung, seperti biasa jika sedang galau, mengitari pintu gedung.
“Sial. Dia jahat sekali. Apa yang harus kulakukan? Haruskan aku mengabaikan hukum kerahasiaan dan mengatakan semuanya? Tidak. Aku seorang pengacara. Menjadi pengacara adalah pekerjaanku.”



Kemudian datang Kwan-woo hendak keluar kantor. Hye-sung berubah ceria, menggandeng dengan paksa Kwan-woo mengitari pintu untuk kembali ke dalam.
Hye-sung: “Senang bertemu denganmu! Ayo kita bicara.”
Kwan-woo bingung ditarik langsung gitu, “Tapi aku harus bertemu klien!”
Hye-sung cerita, “Aku baru saja bertemu dengan Jeong Pil-seung.”
Kwan-woo menepis tangan Hye-sung, “Hey… kau tidak boleh memberitahuku! Aku pengacara Jeong Pil-jae.” Kwan-woo beranjak pergi.




Hye-sung menarik lengan Kwan-woo dan berbicara di telingnya sambil berjalan, “Tapi kau harus mendengarnya. Si kembar……”
Kwn-woo menarik lengannya lagi dan menutup kuping’ “Aku tidak mendengar!”
Hye-sung mengejar, “Dengarkan perkataanku!” Hye-sung berusaha mebarik tangan Kwan-woo dari kupingnya.
Kwan-woo: “Aku tidak bisa mendengarmu. Aku tidak bisa mendengarmu.”
(bukan menutup telinga suh, tapi memukul-mukul gitu.)
Hye-sung tidak menyerah, terus berteriak dikuping Kwan-woo sambil memegang lengannya, “Aku pikir mereka merencanakannya bersama! Si kembar mencoba bebas dari tuntutan memperalat kita!”
(Kocak liat adegan ini. ^^)
Kwan-woo mendadak berbalik, sehingga wajah Hye-sung menabrak badan Hye-sung.
“Berhenti! Maafkan aku, tapi aku tidak mau mendengarmu. Aku hanya akan mendengar klienku, Jeong Pil-jae.” Kata Kwan-woo tegas dan segera keluar meninggalkan Hye-sung yang bengong dibentak Kwan-woo.
Hye-sung mengumpat kesal, “Orang bodoh. Kemanapun aku pergi, pasti ada orang bodoh!”




Di luar Kwan-woo terdiam dan berfikir bagaimana jika yang dikatakan Hye-sung benar, “Mereka berdua merencanakan dan melakukan pembunuhan?”
Kwan-woo lalu berteriak dan memukul-mukul pipinya, “Sadarlah, Pengacara Cha! Kau Pengacara Jeong Pil-jae. Aku harus melawan Pengacara Jjang. Pengacara Jjang adalah musuh. Jangan terpengaruh.”   Kwan-woo mengacungkan tangannya yang mengepal, Merdeka! ^^
Ada dua perempuan yang lewat dan menertawakannya. Dia lalu menyadari ada bedak yang menepel di jasnya. Kwan-woo tertawa dan menyebutnya Pengacara Jjang. Kwan-woo mendekatkan wajahnya ke gambar itu, mencium aromnya. Errr…
(Masa iya ya wajah nempel terus ngebentuk muka gitu, mustahil bin mustahal..tapi lucu gambarnya jadinya… :D )
***


Hye-sung curhat pada Soo-ha, “Tidak ada yang lebih bodoh daripada dia. Dia menutup teingany dan berteriak-teriak.”
Hye-sung bersusah payah membuka botol minuman, tapi tidak bisa. Soo-ha membantunya, sekali putar langsung terbuka..
Soo-ha: “Dia terlihat gelisah.”  (maksudnya di persidangan.)
Hye-sung: “Bahkan kau melihatnya seperti itu, kan?”
Soo-ha: “Apa yang akan kau lakukan di persidangan?”
 “Aku tidak tahu. Semua bukti yang ada lemah. Tidak ada yang terlihat jelas. Dengan ini si kembar mungkin akan diputuskan tidak bersalah oleh hakim. Kenapa Do-yeon ingin menuntut hanya dengan bukti-bukti ini?” kata Hye-sung sambil melihat-lihat berkas.




Soo-ha: “Ada sesuatu yang menarik perhatianku.”
Hye-sung: “Apa?”
Soo-ha: “Terakhir kau berbicara dengannya, aku membaca pikirannya.”
Hye-sung: “Apa yang dia katakan? Apakah dia menjelek-jelakan ku lagi?”
Soo-ha: “Tidak. Dia akan merasa aneh jika dia harus memintamu untuk menolongnya.”
Hye-sung: “Apa?”
Inilah pikiran Do-yeon waktu itu:
Haruskah aku meminta tolong? Aku tahu caranya mendapatkan mereka berdua jika aku bisa membuatnya menolongku.”
Hye-sung: “Bagaimana caranya?”
Soo-ha: “Aku tidak tahu. Aku tidak membaca lebih jauh lagi.”
Hye-sung: “Aku membantunya? Menolong gadis itu? Aku tidak mau. Tapi, haruskah aku tetap bertemu dengannya? Bahkan Do-yeon bilang ada sesuatu yang penting. Aku gila. Ke kantor Do-yeon? Lupakan.”




Saat Hye-sung berkutat dengan pikirannya sendiri, Soo-ha diam-diam mengambil ponsel Hye-sung dan mengetik sesuatu dengan wajah polosnya.
Hye-sung tersadar dan bertanya apa yang Soo-ha lakukan dengan ponselnya. Dan dengan wajah polosnya Soo-ha menjawab dia mengirim sms ke seo Do-yeon.
Hye-sung langsung panik, “Apa? Apa kau gila? Kenapa kau mengirim sms gadis itu! berikan padaku!” Hye-sung mencob merebut ponselnya dari belakang, manjat badan Soo-ha. HA.
Soo-ha: “Aku hampir selesai.”





Hye-sung naik ke punggung Soo-ha, “Apa kau akan melangkah sejauh itu? Yah!! Hey!”
Akhirnya Hye-sung mendapatkan ponselnya setelah pergulatan sengit itu.




Soo-ha kecapean, pinggangnya sakit, dia terduduk di meja makan. Hye-sung bengong menatap ponselnya.
“Haaahh.. Apa kau benar-benar mengirimnya seperti ini?”
“Ya.” Soo-ha tersenyum sambil ngos-ngosan.
***



Do-yeon di kantornya sedang membuat berkas perubahan tuntutan. Kemudian ada sms dari Hye-sung.
Dapatkah kita bertemu besok? Aku berpikir kita berdua bisa saling membantu..”
Do-yeon tampak berpikir.
***




Hye-sung berbicara sambil mondar-mandir, “Bekerjasama dengannya itu bukan ‘win-win’, tapi ‘lose-lose’. Apa yang harus ku lakukan? Aku terlihat seperti seorang pecundang! Pecundang total!”
Ada sms masuk dari Do-yeon:
Di tempat kejadian. Jam 7.30 pagi.”
Hye-sung sewot: “Jam 7.30 paagi? Siapa yang bilang dai boleh menentukan tempat dan waktunya. Aku tidak akan pergi.”
Hye-sung mengetik sms, tapi ponselnya direbut Soo-ha, “Kau mengatakan bahwa kau akan menerima kesalahan. Terimalah dan dengarkan ceritanya.”
“Aish.. Kalau bisa, aku jahit mulutmu.” Hye-sung kesal.
***




Do-yeon dan Hye-sung berdiri di depan minimarket. Terlihat ada seorang ibu yang mengangkat botol-botol air mineral sambil mengendong anak kecil yang menangis. Dia adalah istri dari korban si kembar.
Do-yeon: “Korban mempunyai tiga anak termasuk bayi itu. anak pertamanya baru masuk sekolah. Yang kedua menderita autisme. Yang ketiga baru saja melewati ulang tahunnya yang pertama. Sehari sebelum ulang tahunnya, ayahnya dibunuh.”
Hye-sung: “Mengapa kau ingin bertemu denganku disini? Apakah kau mencoba membuatku merasa bersalah dengan melihat keluarga korban?”




Do-yeon: “Kau mengatakan bahwa terdakwa tidak bersalah. Mengapa kau harus merasa bersalah? Kau tahu bahwa mereka berdua bersalah, kan?”
Hye-sung: “No comment. Kau jaksa dan aku pembela umum, kan?”
Do-yeon: “Aku akan tetap pada tuntutan. Itu tidak salah. Kalaupun ada, itu tidak boleh terjadi. Aku yakin mereka berdua merencanakannya.”
Hye-sung: “Kau harus mempunyai bukti, bukan udara tipis. Tapi, semua buktinya lemah.”
Do-yeon: “Aku tidak punya bukti. Tapi, aku mempunyai rencana.”



Hye-sung: “Rencana apa?”
Do-yeon: “Jika aku mengatakannya, akankah kau membantuku? Haruskah aku memberitahumu atau tidak?”
Hye-sung: “Kalau kau ingin mengatakannya, cepat katakan. Jangan bicara memutar-mutar seperti sebelumnya sehingga aku bisa mengerti.”
Do-yeon menghadap Hye-sung, “Rencana yang ku pikirkan adalah…….”



Kwan-woo berjalan ke arah mereka dan melihatnya. Kwan-woo sembunyi, berusaha mengintip mereka. “Mengapa mereka bersama?”
***



“Pengacara Jang dan Jaksa Seo bertemu?” tanya Yoo-chang pada Kwan-woo. “Di tempat kejadian?”
Kwan-woo manggut-manggut dengan ekspresi seperti masih syok.
Pengacara Shin: “Apa yang seorang jaksa dan seorang pembela umum diskusikan sebelum persidangan?”
Yoo-chang: “Mungkin jaksa dan pembela umum bersatu untuk menyerang Pengacara Cha.”



Pengacara Shin: “Itu benar-benar masalah. Apa kau pikir dia akan melakukan hal seperti itu disaat dia adalah seorang pembela umum?” tanyanya pada Yoo-chang.
Yoo-chang: “Tentu saja, Pengacara Jang akan melakukannya. Aku berpikir seperti itu juga kan? Pengacara Cha?”
Kwan-woo melamun, tiba-tiba dia berbicara mengagetkan:”Aku benar-benar tersentuh.”
Pengacara Shin: “Apa?”
Kwan-woo: “Itu pada jam 7.30 pagi. Pergi ke tempat kejadian perkara pada jam segitu menunjukkan bagaimana menjiwainya dia dengan kasus ini. Aku sering melakukannya, tapi ini sungguh diluar perkiraan untuk Pengacara Jjang untuk melakukannya. Tidakkah dia lebih menjiwai daripada kelihatannya?”
Yoo-chang: “Menjiwai? Tapi, dengan apa yang kau katakan, kau berpikir bahwa Pengacara Jang adalah yang terbaik? Menjiwai?”
Kwan-woo: “Lalu apa yang lebih dari itu?”
Yoo-chang: “Ahh. Dia terlalu positif. Terlalu optimis.”
(Aku juga suka Kwan-woo karena dia itu selalu berpikir positif pada siapapun dan pada keadaan apapun.)
***


Hye-sung menunjukkan dua berkas pada Pil-seung, kini dengan lebih berani, lebih percaya diri.
Hye-sung: “Pilihlah, yang ini (pink) adalah pengakuan dan yang ini (biru) adalah tidak mengakui.”



Pil-seung menarik yang biru, “Tentu saja aku tidak akan mengaku.”
Hye-sung menahan berkasnya, “Bahkan kau mungkin akan bebas jika kau mengaku?”
Pil-seung: “Obat apa yang hendak kau minumkan lagi padaku?”
Hye-sung menepuk berkas pink, “Aku beritahu apa obat ini. Pertama, di persidangan besok, kami akan menghapus semua bukti. Bukan hanya milikmu tapi juga milik Jeong Pil-jae.”




Pil-seung: “Bukan hanya milikku, tapi juga milik kakak?”
Hye-sung: “Ya. Jika bukti merencanakan perampokan dan pembunuhan itu hilang, lalu kau akan membuat pengakuan.”
Pil-seung: “Kau bercanda? Jika aku membuat pengakuan, bagaimana bisa aku jadi tidak bersalah?”
Hye-sung: “Kode Prosedur Kriminal No. 310. Bukti Nyata Kebenaran Untuk Hukum Pengakuan: ‘Jika bukti hanya pengakuan terdakwa, makan terdakwa pasti tidak bersalah’. Saat kau mengaku, dan tidak ada bukti lain. Maka, kau tidak bersalah. Akan tetapi, orang lain yang tidak mengaku dialah yang bersalah.”

Pil-seung bingung: “Apa? Kakak tidak punya bukti sepertiku. Lalu mengapa dia bersalah?”
Hye-sung tersenyum: “Ada bukti untuk kakakmu. Dan itu adalah kau. Pengakuan yang kau buat akan menjadi bukti yang menjerat kakakmu. Bahkan jika kakakmu  menyangkal, pengakuanmu, dalam arti sebenarnya, akan menjadi bukti. Dalam hal ini, dia bersalah. Ini menakjubkan bukan? Saat kau mengaku, kau bebas. Saat kau menyangkal, kau bersalah.”





Pil-seung: “Sudah tidak ada bukti. Lalu, mengapa aku harus mengaku? Jika kami tidak menerimanya sampai akhir, kamu berdua akan bebas.”
Hye-sung: “Bagaimana jika ada bukti lain dan jaksa hanya tidak membawanya keluar.”
                 
Pil-seung: “Apa maksudnya?
Hye-sung: “Kami memeriksa daftar bukti. Tapi, hanya ada satu CCTV yang diajukan, padahal aslinya ada dua. Juga, CCTV ditempatkan di sebuah tempat dimana kau tidak bisa melihatnya. Kau pikir apa alasannya? Jaksa sudah mengaturnya. Membuka pintu dan hanya membiarkan satu orang keluar, dan menangkap yang satu lagi. Sesuatu seperti itu.”
Pil-seung tampak berpikir.
Hye-sung: “Lalu saat pintu dibuka untuk membiarkanmu keluar, keluarlah. Jangan melewatkannya untuk alasan yang tidak berguna. Hukum bukn untuk disetujui, tapi menempatkannya untuk digunakan dengan baik, kan?”
***




Hye-sung dan Soo-ha sedang menunggu bus.
Soo-ha bertanya tentang hukum yang tadi dibicarakan Hye-sung pada Pil-seung dan menanyakan apakah Hye-sung akan melepaskannya. Hye-sung menjawab dia tidak akan melepaskan mereka berdua.
Lalu Soo-ha membaca pikiran seorang pria yang akan mencopet, “Bagaimana dengan wanita ini? Yang mengambil uang dari bank?” dan bersiap akan mensilet tas ibu itu.
Soo-ha segera bertindak. “Aigo. Pria yang memakai topi biru ini, membiarkan risletingnya terbuka. Ha ha ha.”
Si pria itu menatap Soo-ha.
Soo-ha: “Aigo, aku salah. Aku sepertinya melihat hal lain.”
Si pria segera pergi setelah mengumpat dalam hati.



Hye-sung penasaran, “Ada apa ini?”
Soo-ha: “Pria itu hendak mencopet.”
Hye-sung memukul pundak Soo-ha “Seharusnya kau menangkapnya!”
Soo-ha: “Aku menghentikannya sebelum dia mencuri apapun. Tenang saja.”
Hye-sung: “Apa maksudmu tenang? Di mungkin hendak mencopet orang lain.”




Lalu Hye-sung mendapat sms dari ibu: “Hye-sung, kapan kau akan membayar? Kapan aku bisa mengambilnya?”
Hye-sung membalas: “Dua minggu lagi, hari jumat.”
***





Ibu meminta Joon-guk (Gil-dong) untuk menandai kalender di hari jumat dua minggu lagi. Joon-guk mengerjakan permintaan ibu. Disamping kalender terdapat foto-foto ibu bersama Hye-sung sejak Hye-sung kecil, wisuda perguruan tinggi, dan menjadi pengacara. Joon-guk memandangi foto-foto itu.
Ibu: “Apa yang sedang ku lihat?”
Joon-guk: “Foto-foto ini. Anda dan putri anda terlihat sangat bahagia.”

Ibu: “Senyumnya itu karena untuk di foto saja. Kenyataannya dia tidak punya sedikitpun kecantikan.”
Joon-guk: “Itu terlihat sangat bahagia. Kalian berdua.”
Ibu: “Dimana keluargamu?”
Joon-guk: “Mereka sudah meninggal. Sudah lama.”
Joon-guk terlihat sedih.
***

Hari persidangan.
Pil-seung dan Pil-jae di dalam bis menuju ke pengadilan. Pil-seung tampak masih memikirkan kata-kata Hye-sung, dan menoleh ke kakaknya.
“Lalu saat pintu dibuka untuk membiarkanmu keluar, keluarlah. Jangan melewatkannya untuk alasan yang tidak berguna.”
Do-yeon menuju ruang persidangan dengan percaya diri, begitupun Hye-sung dan Kwan-woo. Hakim pun berjalan masuk dengan gagahnya.
Soo-ha di sekolah melihat jamnya, dan berkata dengan pelan, “Semangat!”
Hakim menanyakan pada Jaksa perihak tuntutan yang tidak berubah dan semua bukti dari Jaksa yang ditolak pihak terdakwa. Hakim Ketua mengatakan pada rekannya, ini akan memakan waktu yang lama.
Hye-sung dan Do-yeon saling pandang penuh arti.
Pil-seung masih memikirkan kata-kata Hye-sung yang lain.
”Di persidangan besok, kami akan menghapus semua bukti. Bukan hanya milikmu tapi juga milik Jeong Pil-jae.”
Satu persatu bukti yang di ajukan jaksa, dipatahkan oleh Pengacara.
Pengacara Shin dan Yoo-chang hadir di pengadilan. Juga pacarnya Pil-seung yang duduk di belakang Pengacara Shin.
Yoo-chang: “Aku tidak mengerti dengan Pengacara Jang. Dia tidak merencanakan sesuatu dengan jaksa, tapi dengan Pengacara Cha, dan pengambil alih penuntutan.”
Pengacara Shin tampak berpikir, “Jaksa menyerah terlalu mudah. Terlihat seperti hendak menyerah.”
Yoo-chang: “Ai, itu tidak mungkin.”
***
Lalu mereka melihat bukti CCTV dimana salah seorang dari si kembar membuka topengnya dan menusuk pemilik minimarket.
Hakim menanyakan adakah kaset lain yang lebih jelas. Jaksa bilang tidak ada.
Hye-sung menoleh ke Pil-seung. Pil-seung teringat lagi perkataan Hye-sung.
“Kami memeriksa daftar bukti. Tapi, hanya ada satu CCTV yang diajukan, padahal aslinya ada dua. Juga, CCTV ditempatkan di sebuah tempat dimana kau tidak bisa melihatnya. Kau pikir apa alasannya? Jaksa sudah mengaturnya. Membuka pintu dan hanya membiarkan satu orang keluar, dan menangkap yang satu lagi. Sesuatu seperti itu.”
Pil-seung memejamkan matanya dan mengingat lagi, “Lalu saat pintu dibuka untuk membiarkanmu keluar, keluarlah. Jangan melewatkannya untuk alasan yang tidak berguna.”
Yoo-chang: “Jika CCTV tidak dihitung, dua pengacara itu berhasil mematahkan semua bukti.”
Pengacara Shin: “Jika semua bukti terhapus dan salah satu dari mereka mengaku…..”
Yoo-chang melanjutkan, “Karena pengakuan itu, satu dari mereka tidak bersalah dan yang satu lagi bersalah.”
Mata Yoo-chang membesar, terbelalak, “Haaa, apa anda pikir Pengacara Jang mungkin……”
Pengacara Shin yang melanjutkan: “Ini seperti ‘Prisioner Dilemma’.
Hye-sung menatap Do-yeon. Lalu flashback saat mereka bertemu di tempat kejadian perkara.
Do-yeon: “Rencananya aku mencoba menggunakan ‘Prisioner Dilemma.’
Hye-sung: “Hey. Kau hanya dapat menggunakan itu saat salah satu dari mereka mengkhianati rekannya. Si kembar telah merencanakan semuanya dengan sempurna.”
Do-yeon: “Apa kau yakin? Jika salah satu dari mereka tidak bersalah, dan yang lain bersalah dan harus tinggal di penjara selama 15 tahun, tidakkah kau berpikir mereka akan berkhianat? Kita akan membuat mereka saling berkhianat dan….”
Hye-sung: “Menangkap keduanya?”
Hakim: “Hanya itu. Saya rasa ini akan sulit untuk menggunakan bukti dalam kasus ini. Mari kita lihat lagi daftar bukti yang ada.”
Pil-seung kembali tampak berpikir, mungkin terasa sulit, tapi dia teringat kembali kata-kata Hye-sung.
“Saat bukti-bukti terhapus, kau, Jeong Pil-seung akan mengaku.”
Pil-seung menoleh ke Hye-sung, Hye-sung memberinya keyakinan. Sejenak tampak berpikir, Pil-seung lalu berdiri dan berkata pada hakim.
“Saya…kami merencanakan semuanya dan kami membunuh orang.”
Do-yeon tersenyum puas. Semua orang kaget termasuk Pil-jae.
Pil-jae: “Hey. Ada apa denganmu? Apa kau gila?”
Hakim: “Terdakwa Jeong Pil-seung, kamu punya hak untuk menarik kembali pengakuanmu. Apakah maksud terdakwa adalah menerima tuntutan terhadapmu, dan mengetahui efeknya?”
Pil-seung: “Ya. Saya menerimanya. Saya mengakuinya sekarang.”
Pengacara Shin tampak berpikir.
Hakim: “Lalu, bagaimana dengan anda Jeong Pi-jae, apakah menerimanya juga?”
Pil-jae: “Tidak. Aku tidak melakukannya! Aku tidak melakukan apapun. Dia melakukannya sendiri!”
(Pil-jae yang kesal menumpahkan kesalahan pada adiknya, tanpa tahu bahwa dengan begitu dia yang akan masuk penjara.)
Hakim: “Jeong Pil-jae, karena kami menemukan bukti, kau mungkin dinyatakan bersalah.”
Kwan-woo: “Hakim, saya meminta waktu untuk membicarakan hal ini lebih lanjut dengan klien saya.”
 
Pil-jae masih kesal, berkata dengan amarahnya “Tunggu sebentar! Hakim mengatakan kebohongan.”
Kwan-woo: “Jeong Pi-jae, kumohon hentikan.”
Pil-jae: “Mana buktinya? Pengacara baru saja mengatakan tidak ada bukti.”
Hakim: “Pengakuan yang dibuat Jeong Pil-seung adalah bukti yang menjeratmu.”
Pil-jae: “Apa? Lalu bagaimana dengan pria itu?”  Pil-jae menunjuk Pil-seung.
Hakim: “Jika pengakuan tadi hanya satu-satunya bukti dalam kasus ini, hukum melarang hukuman. Tidak ada bukti lain yang menyatakan Jeong Pil-seung melakukan kejahatan. Dan hanya dia yang mengaku jadi dia bisa dibebaskan.”
Pengacara Shin mendesah.
Pil-jae terduduk lemas, dia bertanya pada Kwan-woo, “Dia mengaku dan oleh karena itu, tidak bersalah dan aku bersalah? Jadi, pria itu menjualku sehingga dia bisa keluar dengan selamat!”
Kwan-woo: “Aku tidak yakin apa yang dia inginkan, tapi hasilnya akan sama seperti yang kau katakan barusan.”
Pil-jae berpikir, “Apa yang terjadi jika aku mengaku?”
Hakim: “Apa? Apa yang kau katakan?”
Pil-jae: “Jika aku mengaku, lalu akan ada bukti untuk pria itu juga. Lalu pria itu akan bersalah juga. Begitu kan?”
Pil-seung panik, “Sial.”
Pil-jae dengan lantang berkata pada hakim, “Aku mengaku. Aku akan mengaku!”
Kwan-woo panik, “Tuan Jeong Pil-jae! Jangan terbawa emosi. Biarkan aku menanganinya! Ayo kita diskusikan situasinya..”
Pil-jae makin emosi, dia berteriak, “Pria ini memberitahuku untuk mengatakan bahw aku tidak membunuh korban, apapun yang terjadi. Dan untuk terus menyangkalnya. Lalu kami berdua akan bebas. Itulah bagaiman kami membunuhnya bersama. Dia merencanakan semuanya. Dan aku, menusuknya. Benarkan Pil-seung?”
Pil-seung: “Diam! DIAM!”
Pil-seung berusaha menerang Pil-je, untung dengan cepat di tahan Kwan-woo dan petugas.
Pil-jae: “Ini karena kau memulainya! Kau bajingan! Semua karenamu..! Karenamu! Andai kau tidak mengaku!”
Pil-seung berteriak.
Hye-sung dan Do-yeon saling menatap.
Hakim mendesah.
Pacar Pil-seung menangis, Pengacara Shin melihatnya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar